Upacara Ruatan Melalui Media Pantun Sunda
a. Pengertian Ruat
Ruat (Ngaruat atau ngalokat) dapat dikatakan selamatan untuk menolak bala yang dapat mendatangkan keselamatan dan kesejahteraan hidup. Hal tersebut merupakan penetralisir dari ancaman dan bahaya yang senantiasa dialami manusia. Netralisasi biasanya terjadi dengan mengucapkan kalimat sakti, seperti mantra, rajah, jampi, atau dengan penyembelihan, sesaji, mandi bunga (Rachmat Subagya, 1981:76). Prosesi tersebut tidak lepas dari manifestasi yang gaib, baik Tuhan atau ruh leluhur dalam upacara ritualnya. Hal ini menunjukkan bahwa aktivitas tersebut mengandung pengaruh monoteisme, Tuhan yang tunggal bersifat baik dan adil yang kemudian menciptakan makhluk ciptaan-Nya yang bersifat gaib, dan manusia melakukan penyadaran diri terhadap makhluk halus tersebut yang mengambil jarak terhadap Tuhan dan menyembahnya. Kepercayaan tersebut disebut animisme, yakni menunjukkan kepercayaan akan roh-roh halus yang berdiri lepas dari manusia dan yang campur dalam urusan insani (Rachmat Subagya, ibid).
Ngaruat merupakan bentuk ritus yang pengungkapannya keberadaan manusia untuk mendapatkan keselamatan yang dilakukan dengan berbagai macam tata cara prosesinya. Prosesi ngaruat tersebut, biasanya dilakukan dalam pembersihan desa, kelahiran bayi, pembuatan rumah, dan sebagainya. Semua itu dilakukan untuk mendapatkan atau mengharapkan keselamatan dari Yang Maha Kuasa.
Ngaruat dapat di klasifikasikan dalam 2 jenis ruatan, yakni ngaruat manusia dan ngaruat benda. Ngaruat manusia, terdapat ciri-ciri orang yang harus diruat atau sukerta, yakni spesifikasi orang yang harus diruat. Ngaruat benda, biasanya dilakukan untuk benda-benda yang dianggap perlu diruat, biasanya ruatan tersebut; ngaruat bangunan baru, pembuatan rumah, dan netepkeun pare (setelah panen padi). [1]
Kepercayaan ngaruat oleh sebagian masyarakat Sunda masih diyakini dapat mendatangkan keselamatan, biasanya prosesi ngaruat dapat dilakukan melalui media kesenian sebagai sarananya. Selain kesenian wayang, pantun pun dapat dijadikan media dalam prosesi ngaruat. Upacara ngaruat memiliki tujuan untuk pembersihan diri yang bersifat rohani, penetralisir keadaan diri yang ternoda secara bathin (dosa), atau keadaan-keadaan tertentu karena terdapat gangguan dari mahkluk halus, dsb., yang dianggap dapat mendatangkan kesialan atau marabahaya yang menimpa manusia. Terdapat beberapa sukerta (orang yang harus diruat) yang dianggap perlu diadakan ruatan agar terhindar dari bahaya atau kesialan yang dapat menimpa orang tersebut. [2]
a. Stimulasi Emosi Keagamaan
Pantun dijadikan media penghubung antara manusia dan mahluk halus atau sesuatu yang gaib dalam kehidupan manusia. Hal tersebut tercermin dalam melakukan upacara ruatan yang identik dengan pemintaan keselamatan hidup terhadap Tuhan dan ruh leluhur (karuhun) yang dianggap menduduki tempat tertinggi di atas manusia, sehingga melahirkan sikap emosi keagamaan masyarakat yang mempercayainya.
Emosi keagamaan yang dimaksud adalah tindakan yang mendorong manusia berprilaku serba religi, artinya terdapat suatu rangsangan yang dapat menggetarkan nuraninya dalam rangka penyadaran diri terhadap Tuhan, ruh leluhur, mahkluk halus yang lebih tinggi kedudukannya di atas kodrat manusia (Koentjaraningrat: ibid hal. 202). Emosi keagamaan sebagai salah satu kegelisahan atau penyingkapan suatu gejala yang tidak dapat diukur dengan akal manusia, sehingga manusia berusaha mencari jawabannya.
“Menganai masalah apakah emosi itu disebabkan karena manusia sadar akan adanya makhluk halus yang menempati alam sekeliling tempat tinggalnya, dan berasal dari jiwa orang-orang yang sudah meninggal; karena manusia takut menghadap berbagai krisis dalam hidupnya; tak mampu menjelaskan berbagai gejala dengan akalnya; percaya adanya kekuatan sakti dalam alam; menerima wahyu; atau karena gabungan dari semua sebab itu Emosi keagamaan yang mendasari setiap prilaku yang serba religi itu menyebabkan timbulnya sifat keramat dari perilaku itu, dan sifat itu pada gilirannya memperoleh nilai keramat”
Masyarakat yang menghormati kesenian tradisional yang identik dengan dunia mistis terhanyut oleh kesadaran akan kekuatan adikodrati. Penghayat pantun berusaha luruh pada kehendak gaib yang berada di lingkungannya dengan memenuhi segala permintaan makhluk gaib atau ruh leluhur.[3] Masyarakat pendukung pantun berasal dari berbagai lapisan masyarakat, mulai dari rakyat biasa hingga orang-orang yang menempati kedudukan tinggi di masyarakat. Mereka menjadikan pantun sebagai media untuk memenuhi keinginan mereka atau mereka mempunyai maksud dan tujuan untuk kepentingan hidupnya. Sebelum pertunjukan direncanakan, mereka mengungkapkan keinginannya kepada prepantun atau juru pantun untuk memenuhi niatnya dengan menggelar cerita pantun.
Dalam hal ini terjalin hubungan antara individu dan seniman pantun (juru pantun) atau dapat berupa hubungan antara individu dan kelompok. Terjalin kontak sosial sebagai proses sosial untuk menjalin kerjasama dalam mewujudkan tujuan yang sama.[4] Masyarakat, kelompok, dan individu mewujudkan kebutuhan-kebutuhan hidup yang senantiasa dapat memenuhi kebutuhan tersebut. Orang yang menanggap pantun dan seniman pantun menjalin kerjasama yang menimbulkan timbalbalik. Penanggap pantun mendapatkan keselamatan atau keinginannya terwujud setelah upacara ritual terlaksana, sedangkan seniman pantun (juru pantun) mendapatkan jasa berupa materi untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.
Masyarakat atau orang-perorang penghayat pantun mendapatkan keuntungan yang bersifat rohani (ketentraman batin) dan jasmani (kesejahteraaan hidup, kesehatan, dsb.).
b. Cerita Pantun dalam Upacara Ruatan
Telah disebutkan dalam Bab II, bahwa pantun tergolong pada bentuk sastra lisan yang menceritakan mitos-mitos tokoh legenda Sunda. Seniman pantun, yakni juru pantun menganggap bahwa cerita-cerita tersebut merupakan cerita suci yang memiliki nilai keramat. Cerita tersebut dapat dikatakan Kesusastraan suci yang megandung suatu kompleks konsepsi–konsepsi dan dongeng–dongeng suci mengenai sifat-sifat dan kehidupan dewa-dewa serta mahkluk–makhluk halus lainnya (yaitu mitologi). Ketika cerita pantun dikisahkan, seolah-olah mengulang kembali kosmos di mana kisah tersebut terjadi pada masanya. Menceritakan cerita tersebut seakan-akan mengulang kembali waktu mitos (mytical time) dengan seluruh kosmos diharapkan dapat menetralisir keadaan dunia yang tidak seimbang, ini yang dimaksud Marceu Eliade mengenai waktu mitos.
Biasanya cerita-cerita pantun memiliki cerita khusus untuk upacara ruatan, cerita tersebut yang berkaitan dengan mitologi Sunda lama yang mengandung kosmologi dan kosmogoni (yang berisi tentang penciptaan dan asal-usul manusia) zaman Sunda lama. Hal tersebut merupakan konsep dasar kepercayaan asli Indonesia dalam mengungkapkan kepercayaan akan makna hidup, manusia memakai lambang dan tanda. Rachmat Subagya (ibid hal 166) menyebutkan dua macam tanda tersebut, yakni:
“Mitos asal yang menafsirkan makna hidup berdasarkan kejadian purba. Mitos asal suku bangsa atau asal padi dan lain-lain memberi petunjuk untuk tata kelakuan. Ritus atau upacara adalah kelakuan simbolis yang mengkonsolidasi atau memulihkan tata alam dan menempatkanmanusia dan perbuatannya dalam tata tersebut. dalam ritus digunakan kata-kata, doa, dan gerak-gerik tangan atau badan. Baik mitos maupun ritus bermakna mengokohkan tata rencana alam raya semula dan diharapkan akan mempartisipasikan seluruh hidup umat dalam tata keselamatan.”
Reaktualisasi mitos tersebut dapat memberikan pencerminan diri, dan yang diharapkan setelah menjalani prosesi ruatan, penjelmaan dalam cerita tersebut luruh kapada orang yang diruat. Cerita-cerita yang dikisahkan disesuaikan dengan jenis ruatan, ruatan rumah tangga misalnya, juru pantun Abah Akis menceritakan kisah, Prabu Siliwangi, Dewi Pohaci Wiru Minanggai, Lutung Kasarung, Sumur Bandung, Malangsari. Pada umumnya, cerita yang dikisahkan dalam prosesi ngaruat adalah cerita kelahiran Batara Kala, cerita ini sama dengan cerita Batara Kala dalam wayang yang digunakan untuk upacara ruatan pula. Biasanya cerita tersebut digunakan untuk upacara ritus yang berkaitan dengan daftar sukerta dan ruatan benda seperti yang telah disebutkan di atas. Tidak semua juru pantun menyajikan cerita yang sama dalam prosesi ruatan, kadang-kadang cerita dalam ruatan disesuaikan dengan keadaan orang yang diruat agar cerita yang dikisahkan menjelma dan tercermin pada orang yang diruat tersebut. Dalam arti, cerita yang dikisahkan tersebut tergantung pada juru pantun untuk menceritakan cerita dalam prosesi ruatan.
Dalam acara hiburan biasa cerita yang dikisahkan menceritakan lakon biasa, seperti Mentralaya, Masa Layang Jaladri, Dewi Asri, Simber Kancana, Panggung Karaton, dll (wawancara, 3 Agustus 2006). Cerita yang dikisahkan tidak menceritakan cerita yang dianggap keramat, melainkan hanya lakon-lakon biasa yang tidak berhubungan dengan konteks ruatan.[5] Cerita-cerita untuk hiburan barangkali cerita yang dikisahkan tergolong pada jenis cerita sempalan atau cerita roman yang tidak dianggap memiliki nilai keramat.
[1] Wawancara …
[2] Daftar sukerta dicantumkan dalam Lampiran.
[3] Salah satu permintaan tersebut, misalnya berupa penyediaan sesajen yang harus disediakan apabila akan mempertunjukkan pantun. Penyediaan sesajen tersebut sudah menjadi kewajiban untuk dilaksanakan dan disediakan, apabila tidak dipenuhi dianggap dapat menimbulakan keadaan yang tidak diiginkan.
[4] Proses sosial adalah cara-cara berhubungan yang dapat dilihat orang perorangan dan kelompok. Kelompok manusia saling bertemu dan menentukan sistem, serta bentuk-bentuk hubungan tersebut. Proses sosial diartikan sebagai pengaruh timbal balik bagi kehidupan bersama.
[5] Dalam konteks ruatan cerita yang dikisahkan merupakan pemaknaan cerita yang diharapkan menjelma pada orang yang diruat.
Rasa estetis adalah salah satu anugrah terbesar yang diberikan Allah SWT. Sensasi terbesar ketika kita melihat keindahan-keindahan yang diciptakan-Nya, lantas manusia mulai meniru sang Maha Kreator. Kebutuhan estetis manusia yang integratif menjadikan manusia itu memiliki rasa kagum terhadap kreasi individu dan kelompok. "seni untuk seni", keberadaannya untuk dihayati, dan merubah kehalusan budi pencipta dan penghayatnya.
Showing posts with label Seni Ritual. Show all posts
Showing posts with label Seni Ritual. Show all posts
Monday, 9 February 2009
Tarawangsa
Musik Ritual Tarawangsa
Peningkatan konsentrasi Menuju Alam Bawah Sadar
Oleh Aji Permana Sudjamza, S. Sn
Intisari
Tarawangsa merupakan salah satu jenis kesenian yang terdapat di Jawa Barat. Kesenian ini digunakan untuk prosesi ritual yang berkaitan dengan kepercayaan masyarakat pendukungnya. Kesenian tarawangsa dapat dikategorikan sebagai musik ritual, karena adanya ruang sakral yang dibentuk oleh keyakinan yang dianut masyarakat. Yang menarik untuk dikaji adalah ketika musik ini digunakan untuk iringan tari. Hadirin yang mengikuti prosesi ini dipersilakan untuk menari, mereka mengalami trance (tak sadarkan diri). Sebetulnya secara tidak sadar mereka dipengaruhi oleh musik tarawangsa hingga menuju pada tingkat konsentrasi (pengosongan pikiran). Kemudian, bagaimana hubungan antara musik dengan makhluk gaib? Apakah mereka sama hakekatnya dengan manusia memiliki perasaan, akal, dan kehendak?
Pendahuluan
Di Indonesia kesenian tradisional selalu dikaitkan dengan kepentingan yang erat kaitannya dengan kepercayaan masyarakat dalam melangsungkan kehidupan sosialnya. Kesenian digunakan sebagai media penghubung antara manusia dengan kehidupan lain yang tidak dapat terindera oleh kasat mata atau hubungan manusia dengan Tuhan. Keberadaannya merupakan ungkapan keindahan yang dituangkan melalui karya seni, dalam rangka penghormatan atau rasa syukur pada ‘makhluk halus ‘ – yang tidak tampak - atas keselarasannya dengan kehidupan manusia. ‘Makhluk halus’ yang dimaksud adalah adanya ruh nenek moyang, artinya selain meyakini adanya Tuhan mereka percaya akan adanya alam lain yang ditempati oleh ruh nenek moyang. Hal ini dipengaruhi oleh keyakinan lama mereka, mengingat bahwa pada zaman dahulu masyarakat Indonesia adalah penganut animisme dan dinamisme.[1] Maka kesenian dihubungkan dengan segala sesuatu yang berkaitan dengan suatu ritus tertentu - menggunakan kesenian yang sudah biasa mereka lakukan dalam kurun waktu yang cukup lama.
Masyarakat Sunda lama meyakini adanya ruh leluhur (karuhun) yang senantiasa bergandengan dengan kehidupan manusia, bahkan pada zaman sekarang pun sebagian masyarakat tradisional masih meyakini hal tersebut. Biasanya mereka mengadakan hubungan dengan alam lain melalui suatu ritus yang menggunakan musik sebagai mediator.
Di daerah Rancakalong Kabupaten Sumedang, terdapat salah satu jenis kesenian yang masih digunakan untuk kepentingan upacara ritual. Kesenian tersebut adalah tarawangsa. Masyarakat Rancakalong masih memegang tradisi adat dalam melangsungkan kehidupan sosialnya. Masyarakat setempat meyakini adanya mahkluk halus yang senantiasa mempengaruhi kehidupan mereka, keberadaanya menduduki tempat yang penting, sehingga menjadi objek penghormatan, doa, sajian, dan sebagainya.
Masyarakat Rancakalong meyakini bahwa keselarasan dengan makhluk halus tersebut membawa dampak yang sangat besar bagi kelangsungan hidupnya. Hasil panen dan keselamatan masyarakat ditunjang oleh mahkluk halus atau ruh nenek moyang mereka. Ruang sakral yang mengitari kehidupan mereka merupakan manifestasi keberadaan spirit (makhluk halus) yang seiring dengan kehidupan sosial mereka.
Masyarakat religius berusaha untuk mengungkapkan keberadaannya untuk tujuan penyadaran diri terhadap kehendak dan kekuasaan gaib (Tuhan,ruh nenek moyang, dewa, dsb.)[2] Untuk kepentingan tersebut masyarakat Rancakalong memanifestasikan dirinya dengan mengadakan upacara ritual. Upacara tersebut dihubungkan dengan hasil bumi--panen padi, mereka menyebutnya ngalaksa sebagai ungkapan rasa syukur kepada Tuhan atas hasil panen yang telah didapat; rayagungan, dan upacara bubur Suro. Dalam upacara tersebut digelar kesenian tarawangsa sebagai media penghubung antara alam mahkluk halus dengan alam manusia. Musik ritual tarawangsa mengantarkan masyarakat pendukungnya pada keadaan alam bawah sadar hingga trance (tak sadarkan diri), keadaan ini terjadi ketika mereka menari diiringi dengan musik tarawangsa.
Sesuatu yang sangat menarik untuk dikaji ketika musik tarawangsa digunakan untuk upacara ritual, dalam prosesi tersebut masyarakat menari dan mengalami trance (hilang kesadaran). Dengan iringan musik tersebut mereka menuju ruang sakral – transendental, keterbukaan dengan ruang gaib yang tak dapat terindra secara lahiriah. Secara psikologi, musik Tarawangsa mempengaruhi alam pikiran mereka - secara tidak sadar musik Tarawangsa membawa pada alam bawah sadar masyarakat yang meyakininya.
Musik spiritual meningkatkan tingkat samadi pendengar yang meyakininya, kemudian makhluk halus (spirit) yang mendiami lingkungan manusia serta-merta menuju alam manusia, bahkan bergandengan dengan ruh manusia. Apakah musik tarawangsa dihayati oleh mahkluk halus – ruh nenek moyang masyarakat Rancakalong? Belum dapat dibuktikan kebenarannya. Musik tarawangsa hanya sebatas pengantar menuju meditasi--tingkat konsentrasi orang yang mendengarkannya. Musik ritual tarawangsa menjadi sakral karena dibentuk oleh keyakinan dan kesungguhan penghayatnya.
Tulisan ini merupakan peninjauan awal mengenai studi literatur musik ritual tarawangsa. Menawarkan aspek- aspek yang membentuk ruang sakral yang berhubungan dengan kehidupan sosial masyarakat Rancakalong. Dan pengaruh musik tersebut terhadap emosi mereka, mengingat bahwa musik ini dapat menyebabkan hilangnya kesadaran orang yang menari. Prosesi ritual ini dikaitkan dengan adanya makhluk halus yang berada dilingkungan masyarakat Rancakalong, hingga mereka melakukan penghormatan, doa, dsb, dalam rangka penyelarasan antara kehidupan manusia dengan alam lain.
Musik Ritual
Musik ritual dihubungkan dengan sesuatu yang berkaitan dengan upacara keagamaan atau kepercayaan yang diyakini oleh sekelompok orang atau masyarakat dalam rangka penyembahan dan penghormatan terhadap yang gaib. Dalam hal ini musik digunakan sebagai media transceiver menuju alam yang dihuni oleh makhluk halus. Adanya ruang sakral (suci, keramat) yang dibentuk oleh keyakinan yang dianut masyarakat, dan dengan musik manusia mengalami keterbukaan rohani melakukan penyesuaian dengan alam. van Peursen dalam Strategi Kebudayaan menyebutnya sebagai manusia yang transcendental (berdasarkan kerohanian), artinya manusia tidak terkurung (imanen) pada kehidupan dirinya, melainkan luruh terhadap kehendak alam. Menurut E.B Taylor asal mula religi adalah kesadaran manusia akan konsep ruh (Koentjaraningrat, 1998:195).
Pada dasarnya musik ritual dibentuk oleh keyakinan manusia terhadap adanya alam metafisik. Manusia sadar bahwa gerak dalam alam (yaitu hidup) disebabkan oleh suatu kekuatan yang berada di samping tubuh jasmaninya, yakni jiwa yang kemudian disebut ruh. Hal ini berkaitan dengan kepercayaan masyarakat tradisional bahwa gerak alam disebabkan oleh adanya ruh. Fenomena alam yang terjadi seperti, gunung meletus, peredaran matahari, timbulnya tumbuh–tumbuhan, dan sebagainya, semuanya disebabkan oleh kekuatan alam. Adanya ruh yang terdapat pada alam dipersonifikasikan sebagai dewa-dewa yang menguasai alam, dan dewa-dewa tersebut dianggap sebagai makhluk halus yang memiliki kehendak, kepribadian, dan akal. Jelaslah bahwa yang gaib itu menduduki tempat terpenting dalam kehidupan manusia, sehingga mereka melakukan penyelarasan dengan makhluk yang tak terlihat itu. Bentuk penyembahan, penghormatan, dan doa dilakukan dengan berbagai versi. Salah satu bentuk penghormatan tersebut menggunakan musik sebagai media penghubung antara alam manusia dengan alam lain yang tak terlihat. Antara musik dan ruh manusia berinterferensi menuju pada ’kesakralan’ yang diyakini dapat menebus dimensi abstrak .[3]
Pada dasarnya musik sakral untuk prosesi ritus dipengaruhi oleh keyakinan yang dianut oleh masyarakat pendukungnya. Musik sakral dapat digunakan sesuai dengan keinginan masyarakatnya, salah satunya musik yang dianggap keramat dapat digunakan untuk pengusir ruh jahat yang dapat memudarkan keteraturan yang sudah dijalin antara alam manusia dan alam gaib atau antara manusia dengan alam semesta. Selain sebagai media upacara syukur terhadap hasil bumi, keselamatan, dsb, musik ritual yang dinggap keramat itu dapat menimbulkan ketentraman batin yang meyakininya. Esensinya musik ritual yang sakral mempengaruhi emosi manusia, hingga menimbulkan kehalusan budi yang mendengarkannya. Tentunya tidak semua orang yang mendengarkan musik ini menghayati betul karismanya, hal ini didasari oleh keyakinan dari setiap individu atau kelompok masyarakat yang menganggap suci atau keramatnya musik tersebut.
Para pakar musik beranggapan bahwa musik yang digunakan untuk kepentingan upacara keagamaan cenderung repetitif, sederhana, dan menggunakan teba nada yang terbatas. Di Indonesia banyak sekali musik yang digunakan untuk prosesi ritus, biasanya musik seperti ini terdapat di kalangan masyarakat tradisional yang masih memegang teguh adat dan kepercayaannya. Misalnya saja kelong sagala di daerah Sulawesi Selatan, gandrung banyuwangi daerah Jawa Timur, Tarawangsa di daerah Jawa Barat, dan masih banyak lagi kesenian lain yang dihubungkan dengan unsur mistis.
Musik Ritual Tarawangsa
Telah disebutkan di muka, bahwa musik ritual terwujud berdasarkan kepercayaan yang dianut masyarakat pendukungnya. Musik yang dianggap sakral itu dapat menyebabkan keterbukaan jagat batin manusia dengan penghuni alam semesta – yang lebih bersifat metafisik. Kesenian tarawangsa misalnya, musik ini digunakan untuk kepentingan upacara-upacara yang berhubungan dengan makhluk halus (spirit), biasanya kesenian ini digunakan untuk pengungkapan rasa syukur atas keberkahan panen padi.
Kesenian tarawangsa hanya dapat ditemukan di beberapa daerah tertentu di Jawa Barat, yaitu di daerah Rancakalong (Sumedang), Cibalong, Cipatujah (Tasikmalaya Selatan), Banjaran (Bandung), dan Kanekes (Banten Selatan). Tarawangsa di daerah Cibalong dan Cipatujah, selain menggunakan dua jenis alat musik tarawangsa dan jentreng, juga dilengkapi dengan dua perangkat calung rantay, suling, juga nyanyian. Alat musik tarawangsa dimainkan dalam laras pelog, sesuai dengan jentrengnya yang distem ke dalam laras pelog. Tarawangsa memiliki dua pengertian; Pertama, sebagai alat musik gesek yang memiliki dua dawai yang terbuat dari kawat baja atau besi; kedua, merupakan nama dari salah satu jenis musik tradisional Sunda. Tarawangsa merupakan sebuah ensambel kecil yang terdiri dari sebuah tarawangsa dan sebuah alat petik tujuh dawai yang menyerupai kacapi, yang disebut jentreng.
Tarawangsa di daerah Rancakalong Kabupaten Sumedang jauh lebih banyak jumlah lagunya apabila dibandingkan dengan tarawangsa yang berada di Banjaran dan Cibalong. Tarawangsa di Rancakalong terdiri dari dua kelompok lagu, yakni lagu-lagu pokok dan lagu-lagu pilihan atau lagu-lagu tambahan, yang semua berlaraskan pelog. Lagu pokok terdiri dari lagu Pangemat/pangambat, ‘Pangapungan’, ‘Pamapag’, ‘Panganginan’, ‘Panimang’, ‘Lalayaan’, dan ‘Bangbalikan’. Ketujuh lagu tersebut dianggap sebagai lagu pokok, karena merupakan kelompok lagu yang mula-mula diciptakan dan biasa digunakan secara sakral untuk mengundang Dewi Sri.[4] Lagu- lagu tersebut digunakan untuk upacara ritual dalam rangka pengungkapan rasa syukur atas keberkahan hasil panen. Konon dengan melantunkan lagu tersebut dapat menghadirkan Dewi Sri atau Sri Pohaci (dalam mitologi Sunda Nyai Sri Pohaci, dewi pangan yang mengusai hasil bumi--padi), selain itu musik tarawangsa disajikan pada upacara Ngalaksa, Rayagungan, Bubur Suro, dan upacara lainnya yang berhubungan dengan kepercayaan mereka.
Tarawangsa biasa disajikan berkaitan dengan upacara padi, misalnya dalam ngalaksa, yang berfungsi sebagai ungkapan rasa syukur kepada Tuhan atas hasil panen yang melimpah. Tarawangsa adalah prosesi yang lebih bersifat batiniah. Tarawangsa mengandung arti menerawang pada yang Esa. Melalui tarawangsa, para penari diajak menyatukan diri hingga dalam kondisi hening dan terbawa alam transedental--roh-roh gaib datang untuk menyatu dalam kekhidmatan mistis suara rebab dan jentreng atau kecapi. Konon itulah yang dalam konsep religi kuno Sumedang disebut proses penyatuan antara dunia gaib dengan jagat batin manusia. Penyatuan tersebut mengundang ruh atau makhluk halus datang pada saat prosesi, tak heran apabila orang yang menari mengalami trance (tak sadarkan diri). Pada saat itu terjadi mediumisasi, artinya ruh atau makhluk halus tersebut berinterferensi dengan ruh manusia, atau barangkali yang gaib itu menguasai alam bawah sadar penari. Keadaan itu merupakan manifestasi yang gaib dalam mengikuti prosesi ritual, artinya ia (makhluk halus) turut serta dalam penghormatan itu dengan cara merasuki penari, hingga penari kerasukan mahkluk gaib.
Pengantar Menuju Tingkat Konsentrasi
Musik bersifat afektif (emosional), artinya terjadi komunikasi perasaan antara penghayat dan pelaku. Dalam konteks ini, musik ritual sangat mempengaruhi tingkat emosi seseorang. Ketika seseorang mendengarkan musik yang dinggap sakral, ia akan merasakan vibrasi musik tersebut pada suasana hatinya. Secara tidak langsung musik merangsang otak untuk merespon frekuensi yang diserap oleh telinga. Pada tahap awal penangkapan gelombang ini disebut sensasi. Setelah menerima frekuensi (baca: musik) tersebut, secara emosional gelombang frekuensi itu mengajak untuk mengekspresikan apa yang telah diterima oleh otak. Pada tahap selanjutnya tubuh merespon rangsangan yang ditimbulkan oleh gelombang frekuensi tadi, hal ini disebut sebagai model pikiran sehat (Djohan, 2005 : 43).
Ketika seseorang mendengarkan musik keras, misalnya jenis musik Rock, Hip Hop, Blues, dsb, jenis musik tersebut cenderung menggunakan irama, tempo, dan ritme yang relatif cepat. Secara tidak sadar orang yang mendengarkan musik tersebut terpacu untuk menggerakkan tubuhnya - psikomotorik. Pengaruh tersebut secara tidak langsung membentuk tingkah laku dan merupakan pencerminan gaya hidup seseorang. Musik yang cenderung keras (loud), seperti jenis musik Heavy Metal, dapat mempercepat detak jantung. Misalnya, ketika seseorang mengendarai kendaraan (mobil, motor, speed boat, dsb.) sambil mendengarkan musik tersebut, maka secara tidak sadar dapat memacu adrenalin,[5] sehingga kecepatan mengendarai kendaraan akan bertambah. Hal inipun dapat meningkatkan tingkat konsentrasi pengendara. Lain halnya, ketika seseorang mendengarkan musik lembut (soft)- musik klasik, instrumentalia lembut, dsb. Musik jenis ini menawarkan kehalusan emosi yang mendengarkannya.
Kembali pada pokok bahasan mengenai musik ritual tarawangsa, pada dasarnya mempunyai kesamaan dengan contoh kasus di atas. Hadirin yang menari pada saat prosesi ritual dengan tarawangsa sebagai pengiringnya, mereka dipengaruhi oleh alunan musik tersebut dan kemudian larut dalam penghayatan musikal. Keadaan tersebut menimbulkan efek yang luar biasa bagi penari. Vibrasi musik yang dihasilkan tarawangsa mempengaruhi alam bawah sadar, adanya ajakan pengalihan pemuasan keinginan naluri -- persuasi subliminal. Ketika mereka mendengarkan iringan tarawangsa, saraf motoriknya bergerak dan spontan mereka menari. Mereka menghayati betul karisma musik yang ditawarkan, akhirnya mereka terhanyut pada keadaan ekstase.
Menurut Barbara Crowe dalam Djohan (2005:229), mengatakan bahwa musik dan irama menghasilkan efek penyembuhan, karena dapat menenangkan aktivitas yang berlebihan dari otak kiri. Ia menyebutkan bahwa suara repetitif yang keras mengirim sinyal konstan kepada korteks (lapisan zat kelabu atau kulit pada permukaan otak kecil) serta menutup masukan dari indra yang lain seperti pandangan, sentuhan, dan bau. Barangkali ini yang disebut tingkat keheningan pikiran atau konsentrasi, di mana indra yang lain ditutup, kemudian menuju pada alam bawah sadar.
Hal ini cukup beralasan ketika musik tarawangsa disajikan dalam upacara ritual. Para penari menghayati alunan melodi gesekan alat musik tarawangsa. Dalam komposisi musiknya, yang lebih dominan adalah melodi tarawangsa. Jentreng berfungsi sebagai pengiring alur lagu dan sebagai patokan atau pijakan melodi. Terdapat pengulangan yang berkesinambungan dalam setiap periodenya, yang terdiri dari beberapa frase.
Ciri khas dari musik tarawangsa adalah alur melodi tarawangsa, selain itu petikan jentreng selalu menggunakan teknik tengkepan. Barangkali domain gesekan tarawangsa itulah yang mempengaruhi alam bawah sadar penari hingga mengalami trance. Karakteristik musik tarawangsa memang mengundang pendengarnya untuk ngigel atau menari. Hal ini dapat dirasakan dari petikan jentreng yang menggunakan tempo sedang dan petikan-petikan yang seakan mengajak menari mengikuti alunannnya. Barangkali hal tersebut dapat dirasakan oleh orang-orang tertentu yang mengenal betul akan nilai yang terkandung didalamnya. Motif pengulangan yang terdapat pada komposisi musiknya, berdasarkan pada cita rasa sosio masyarakat setempat -- barangkali pengulangan di sini dilakukan tanpa disadari.
Proses penyatuan antara dunia gaib dan jagat batin manusia tentunya memerlukan tingkat konsentrasi tinggi untuk menembusnya. Menuju tingkat konsentrasi itu mereka menggunakan musik tarawangsa sebagai meditasi ke arah heningnya alam pikiran. Ternyata untuk menuju tingkat konsentrasi itu, seorang penari mempunyai selera dalam memilih lagu. Apabila lagu yang dibawakan tarawangsa sesuai dengan seleranya, maka akan semakin cepatlah menuju pada keheningan alam pikiran dan kemudian ia tak sadarkan diri.
Pada dasarnya musik tarawangsa ditujukan untuk manusia menuju pada tingkat konsentrasi tinggi. Adapun mereka menyebutnya sebagai pengundang makhluk halus, itu semua hanya suatu proses menuju transenden. Kita belum mengenal betul hakekat makhluk halus yang sesungguhnya, apakah mereka juga sebagai makhluk yang mempunyai keinginan, pikiran, dan rasa laiknya manusia? Hal itu belum dapat diketahui dengan pasti, karena sesuatu yang tidak terwujud (tampak) sangat sutlit diketahui keberadannya. Adapun yang menyebabkan mereka mengalami trance saat menari, adalah aspek keyakinan penduduk setempat. Sedangkan tingkat konsentrasi untuk menuju pada interferensi antara manusia dengan ruh halus disebabkan oleh musik tarawangsa yang dapat meningkatkan keheningan alam pikiran.
Penutup
Pada dasarnya musik sakral (suci, keramat) yang digunakan untuk upacara yang berhubungan dengan keyakinan, dapat mengantarkan pendengarnya untuk menuju pada tingkat konsentrasi yang lebih tinggi. Ketika seorang penari mendengarkan musik tarawangsa, dan saat ia menghayati betul alunan tarawangsa. Secara tidak disadari musik tersebut bekerja mempengaruhi alam bawah sadar sang penari. Gelombang frekuensi yang dihasilkan dari keutuhan tarawangsa yang didengar oleh penari, dan secara tidak disadari emosi mereka berubah setelah mendengarkan alunannya. Kemudian gerak tubuh tetap merespon untuk melakukan gerakannya, walaupun mereka dalam keadaan trance.
Pada dasarnya musik memiliki hubungan timbal balik dengan kebutuhan manusia, apabila musik diciptakan memberikan manfaat bagi kehidupan manusia maka tercapailah esensi musik yang sesungguhnya. Tetapi apabila musik tidak memberikan apa–apa bagi kehidupan manusia, maka musik tidak bermanfaat, karena tidak dapat menentramkan batin, kehalusan budi yang mendengarkannya.
[1] Animism yaitu kepercayaan yang berdasarkan atas keberadaan ruh yang terdapat di lingkungan manusia, sehingga dilakukan berbagai kegiatan keagamaan guna memuja ruh-ruh tersebut. Dinamism adalahkepercayaan terhadap kekuatan sakti yang ada pada benda-benda atau yang dianggap keramat mempunyai kekuatan sakti, sehingga dilakukan kegiatan keagamaan yang berpedoman pada kepercayaan itu.
[2] Menurut Frazer religi adalah suatu sistem perbuatan untuk mencapai maksud dengan cara menyadarkan diri terhadap kehendak dan kuasa makhluk-makhluk halus yang menghuni alam semesta ini. Dalam Koentjaraningrat.Pengantar Antropologi : Pokok-Pokok Etnografi.Jakarta .1998. Hal 197
[3] Istilah ini diartikan alam lain yang tak dapat terindra oleh pancaindra manusia. Keberadaan alam ini diyakini oleh sebagaian manusia, adanya alam ruh, nenek moyang, dewa, dsb. yang tersekat oleh perbedaan wujud antara materi dan energi.
[4] Lihat situs www.westjava-Indonesia.com
[5] Hormon yang diproduksi anak ginjal, hormon ini juga dikenal sebagai hormon epinefina. Khasiatnya adalah memacu jantung, meninggikan tekanan darah, mengerutkan pembuluh darah di kulit, melebarkan pupil mata, dan meningkatkan kewaspadaan.
Peningkatan konsentrasi Menuju Alam Bawah Sadar
Oleh Aji Permana Sudjamza, S. Sn
Intisari
Tarawangsa merupakan salah satu jenis kesenian yang terdapat di Jawa Barat. Kesenian ini digunakan untuk prosesi ritual yang berkaitan dengan kepercayaan masyarakat pendukungnya. Kesenian tarawangsa dapat dikategorikan sebagai musik ritual, karena adanya ruang sakral yang dibentuk oleh keyakinan yang dianut masyarakat. Yang menarik untuk dikaji adalah ketika musik ini digunakan untuk iringan tari. Hadirin yang mengikuti prosesi ini dipersilakan untuk menari, mereka mengalami trance (tak sadarkan diri). Sebetulnya secara tidak sadar mereka dipengaruhi oleh musik tarawangsa hingga menuju pada tingkat konsentrasi (pengosongan pikiran). Kemudian, bagaimana hubungan antara musik dengan makhluk gaib? Apakah mereka sama hakekatnya dengan manusia memiliki perasaan, akal, dan kehendak?
Pendahuluan
Di Indonesia kesenian tradisional selalu dikaitkan dengan kepentingan yang erat kaitannya dengan kepercayaan masyarakat dalam melangsungkan kehidupan sosialnya. Kesenian digunakan sebagai media penghubung antara manusia dengan kehidupan lain yang tidak dapat terindera oleh kasat mata atau hubungan manusia dengan Tuhan. Keberadaannya merupakan ungkapan keindahan yang dituangkan melalui karya seni, dalam rangka penghormatan atau rasa syukur pada ‘makhluk halus ‘ – yang tidak tampak - atas keselarasannya dengan kehidupan manusia. ‘Makhluk halus’ yang dimaksud adalah adanya ruh nenek moyang, artinya selain meyakini adanya Tuhan mereka percaya akan adanya alam lain yang ditempati oleh ruh nenek moyang. Hal ini dipengaruhi oleh keyakinan lama mereka, mengingat bahwa pada zaman dahulu masyarakat Indonesia adalah penganut animisme dan dinamisme.[1] Maka kesenian dihubungkan dengan segala sesuatu yang berkaitan dengan suatu ritus tertentu - menggunakan kesenian yang sudah biasa mereka lakukan dalam kurun waktu yang cukup lama.
Masyarakat Sunda lama meyakini adanya ruh leluhur (karuhun) yang senantiasa bergandengan dengan kehidupan manusia, bahkan pada zaman sekarang pun sebagian masyarakat tradisional masih meyakini hal tersebut. Biasanya mereka mengadakan hubungan dengan alam lain melalui suatu ritus yang menggunakan musik sebagai mediator.
Di daerah Rancakalong Kabupaten Sumedang, terdapat salah satu jenis kesenian yang masih digunakan untuk kepentingan upacara ritual. Kesenian tersebut adalah tarawangsa. Masyarakat Rancakalong masih memegang tradisi adat dalam melangsungkan kehidupan sosialnya. Masyarakat setempat meyakini adanya mahkluk halus yang senantiasa mempengaruhi kehidupan mereka, keberadaanya menduduki tempat yang penting, sehingga menjadi objek penghormatan, doa, sajian, dan sebagainya.
Masyarakat Rancakalong meyakini bahwa keselarasan dengan makhluk halus tersebut membawa dampak yang sangat besar bagi kelangsungan hidupnya. Hasil panen dan keselamatan masyarakat ditunjang oleh mahkluk halus atau ruh nenek moyang mereka. Ruang sakral yang mengitari kehidupan mereka merupakan manifestasi keberadaan spirit (makhluk halus) yang seiring dengan kehidupan sosial mereka.
Masyarakat religius berusaha untuk mengungkapkan keberadaannya untuk tujuan penyadaran diri terhadap kehendak dan kekuasaan gaib (Tuhan,ruh nenek moyang, dewa, dsb.)[2] Untuk kepentingan tersebut masyarakat Rancakalong memanifestasikan dirinya dengan mengadakan upacara ritual. Upacara tersebut dihubungkan dengan hasil bumi--panen padi, mereka menyebutnya ngalaksa sebagai ungkapan rasa syukur kepada Tuhan atas hasil panen yang telah didapat; rayagungan, dan upacara bubur Suro. Dalam upacara tersebut digelar kesenian tarawangsa sebagai media penghubung antara alam mahkluk halus dengan alam manusia. Musik ritual tarawangsa mengantarkan masyarakat pendukungnya pada keadaan alam bawah sadar hingga trance (tak sadarkan diri), keadaan ini terjadi ketika mereka menari diiringi dengan musik tarawangsa.
Sesuatu yang sangat menarik untuk dikaji ketika musik tarawangsa digunakan untuk upacara ritual, dalam prosesi tersebut masyarakat menari dan mengalami trance (hilang kesadaran). Dengan iringan musik tersebut mereka menuju ruang sakral – transendental, keterbukaan dengan ruang gaib yang tak dapat terindra secara lahiriah. Secara psikologi, musik Tarawangsa mempengaruhi alam pikiran mereka - secara tidak sadar musik Tarawangsa membawa pada alam bawah sadar masyarakat yang meyakininya.
Musik spiritual meningkatkan tingkat samadi pendengar yang meyakininya, kemudian makhluk halus (spirit) yang mendiami lingkungan manusia serta-merta menuju alam manusia, bahkan bergandengan dengan ruh manusia. Apakah musik tarawangsa dihayati oleh mahkluk halus – ruh nenek moyang masyarakat Rancakalong? Belum dapat dibuktikan kebenarannya. Musik tarawangsa hanya sebatas pengantar menuju meditasi--tingkat konsentrasi orang yang mendengarkannya. Musik ritual tarawangsa menjadi sakral karena dibentuk oleh keyakinan dan kesungguhan penghayatnya.
Tulisan ini merupakan peninjauan awal mengenai studi literatur musik ritual tarawangsa. Menawarkan aspek- aspek yang membentuk ruang sakral yang berhubungan dengan kehidupan sosial masyarakat Rancakalong. Dan pengaruh musik tersebut terhadap emosi mereka, mengingat bahwa musik ini dapat menyebabkan hilangnya kesadaran orang yang menari. Prosesi ritual ini dikaitkan dengan adanya makhluk halus yang berada dilingkungan masyarakat Rancakalong, hingga mereka melakukan penghormatan, doa, dsb, dalam rangka penyelarasan antara kehidupan manusia dengan alam lain.
Musik Ritual
Musik ritual dihubungkan dengan sesuatu yang berkaitan dengan upacara keagamaan atau kepercayaan yang diyakini oleh sekelompok orang atau masyarakat dalam rangka penyembahan dan penghormatan terhadap yang gaib. Dalam hal ini musik digunakan sebagai media transceiver menuju alam yang dihuni oleh makhluk halus. Adanya ruang sakral (suci, keramat) yang dibentuk oleh keyakinan yang dianut masyarakat, dan dengan musik manusia mengalami keterbukaan rohani melakukan penyesuaian dengan alam. van Peursen dalam Strategi Kebudayaan menyebutnya sebagai manusia yang transcendental (berdasarkan kerohanian), artinya manusia tidak terkurung (imanen) pada kehidupan dirinya, melainkan luruh terhadap kehendak alam. Menurut E.B Taylor asal mula religi adalah kesadaran manusia akan konsep ruh (Koentjaraningrat, 1998:195).
Pada dasarnya musik ritual dibentuk oleh keyakinan manusia terhadap adanya alam metafisik. Manusia sadar bahwa gerak dalam alam (yaitu hidup) disebabkan oleh suatu kekuatan yang berada di samping tubuh jasmaninya, yakni jiwa yang kemudian disebut ruh. Hal ini berkaitan dengan kepercayaan masyarakat tradisional bahwa gerak alam disebabkan oleh adanya ruh. Fenomena alam yang terjadi seperti, gunung meletus, peredaran matahari, timbulnya tumbuh–tumbuhan, dan sebagainya, semuanya disebabkan oleh kekuatan alam. Adanya ruh yang terdapat pada alam dipersonifikasikan sebagai dewa-dewa yang menguasai alam, dan dewa-dewa tersebut dianggap sebagai makhluk halus yang memiliki kehendak, kepribadian, dan akal. Jelaslah bahwa yang gaib itu menduduki tempat terpenting dalam kehidupan manusia, sehingga mereka melakukan penyelarasan dengan makhluk yang tak terlihat itu. Bentuk penyembahan, penghormatan, dan doa dilakukan dengan berbagai versi. Salah satu bentuk penghormatan tersebut menggunakan musik sebagai media penghubung antara alam manusia dengan alam lain yang tak terlihat. Antara musik dan ruh manusia berinterferensi menuju pada ’kesakralan’ yang diyakini dapat menebus dimensi abstrak .[3]
Pada dasarnya musik sakral untuk prosesi ritus dipengaruhi oleh keyakinan yang dianut oleh masyarakat pendukungnya. Musik sakral dapat digunakan sesuai dengan keinginan masyarakatnya, salah satunya musik yang dianggap keramat dapat digunakan untuk pengusir ruh jahat yang dapat memudarkan keteraturan yang sudah dijalin antara alam manusia dan alam gaib atau antara manusia dengan alam semesta. Selain sebagai media upacara syukur terhadap hasil bumi, keselamatan, dsb, musik ritual yang dinggap keramat itu dapat menimbulkan ketentraman batin yang meyakininya. Esensinya musik ritual yang sakral mempengaruhi emosi manusia, hingga menimbulkan kehalusan budi yang mendengarkannya. Tentunya tidak semua orang yang mendengarkan musik ini menghayati betul karismanya, hal ini didasari oleh keyakinan dari setiap individu atau kelompok masyarakat yang menganggap suci atau keramatnya musik tersebut.
Para pakar musik beranggapan bahwa musik yang digunakan untuk kepentingan upacara keagamaan cenderung repetitif, sederhana, dan menggunakan teba nada yang terbatas. Di Indonesia banyak sekali musik yang digunakan untuk prosesi ritus, biasanya musik seperti ini terdapat di kalangan masyarakat tradisional yang masih memegang teguh adat dan kepercayaannya. Misalnya saja kelong sagala di daerah Sulawesi Selatan, gandrung banyuwangi daerah Jawa Timur, Tarawangsa di daerah Jawa Barat, dan masih banyak lagi kesenian lain yang dihubungkan dengan unsur mistis.
Musik Ritual Tarawangsa
Telah disebutkan di muka, bahwa musik ritual terwujud berdasarkan kepercayaan yang dianut masyarakat pendukungnya. Musik yang dianggap sakral itu dapat menyebabkan keterbukaan jagat batin manusia dengan penghuni alam semesta – yang lebih bersifat metafisik. Kesenian tarawangsa misalnya, musik ini digunakan untuk kepentingan upacara-upacara yang berhubungan dengan makhluk halus (spirit), biasanya kesenian ini digunakan untuk pengungkapan rasa syukur atas keberkahan panen padi.
Kesenian tarawangsa hanya dapat ditemukan di beberapa daerah tertentu di Jawa Barat, yaitu di daerah Rancakalong (Sumedang), Cibalong, Cipatujah (Tasikmalaya Selatan), Banjaran (Bandung), dan Kanekes (Banten Selatan). Tarawangsa di daerah Cibalong dan Cipatujah, selain menggunakan dua jenis alat musik tarawangsa dan jentreng, juga dilengkapi dengan dua perangkat calung rantay, suling, juga nyanyian. Alat musik tarawangsa dimainkan dalam laras pelog, sesuai dengan jentrengnya yang distem ke dalam laras pelog. Tarawangsa memiliki dua pengertian; Pertama, sebagai alat musik gesek yang memiliki dua dawai yang terbuat dari kawat baja atau besi; kedua, merupakan nama dari salah satu jenis musik tradisional Sunda. Tarawangsa merupakan sebuah ensambel kecil yang terdiri dari sebuah tarawangsa dan sebuah alat petik tujuh dawai yang menyerupai kacapi, yang disebut jentreng.
Tarawangsa di daerah Rancakalong Kabupaten Sumedang jauh lebih banyak jumlah lagunya apabila dibandingkan dengan tarawangsa yang berada di Banjaran dan Cibalong. Tarawangsa di Rancakalong terdiri dari dua kelompok lagu, yakni lagu-lagu pokok dan lagu-lagu pilihan atau lagu-lagu tambahan, yang semua berlaraskan pelog. Lagu pokok terdiri dari lagu Pangemat/pangambat, ‘Pangapungan’, ‘Pamapag’, ‘Panganginan’, ‘Panimang’, ‘Lalayaan’, dan ‘Bangbalikan’. Ketujuh lagu tersebut dianggap sebagai lagu pokok, karena merupakan kelompok lagu yang mula-mula diciptakan dan biasa digunakan secara sakral untuk mengundang Dewi Sri.[4] Lagu- lagu tersebut digunakan untuk upacara ritual dalam rangka pengungkapan rasa syukur atas keberkahan hasil panen. Konon dengan melantunkan lagu tersebut dapat menghadirkan Dewi Sri atau Sri Pohaci (dalam mitologi Sunda Nyai Sri Pohaci, dewi pangan yang mengusai hasil bumi--padi), selain itu musik tarawangsa disajikan pada upacara Ngalaksa, Rayagungan, Bubur Suro, dan upacara lainnya yang berhubungan dengan kepercayaan mereka.
Tarawangsa biasa disajikan berkaitan dengan upacara padi, misalnya dalam ngalaksa, yang berfungsi sebagai ungkapan rasa syukur kepada Tuhan atas hasil panen yang melimpah. Tarawangsa adalah prosesi yang lebih bersifat batiniah. Tarawangsa mengandung arti menerawang pada yang Esa. Melalui tarawangsa, para penari diajak menyatukan diri hingga dalam kondisi hening dan terbawa alam transedental--roh-roh gaib datang untuk menyatu dalam kekhidmatan mistis suara rebab dan jentreng atau kecapi. Konon itulah yang dalam konsep religi kuno Sumedang disebut proses penyatuan antara dunia gaib dengan jagat batin manusia. Penyatuan tersebut mengundang ruh atau makhluk halus datang pada saat prosesi, tak heran apabila orang yang menari mengalami trance (tak sadarkan diri). Pada saat itu terjadi mediumisasi, artinya ruh atau makhluk halus tersebut berinterferensi dengan ruh manusia, atau barangkali yang gaib itu menguasai alam bawah sadar penari. Keadaan itu merupakan manifestasi yang gaib dalam mengikuti prosesi ritual, artinya ia (makhluk halus) turut serta dalam penghormatan itu dengan cara merasuki penari, hingga penari kerasukan mahkluk gaib.
Pengantar Menuju Tingkat Konsentrasi
Musik bersifat afektif (emosional), artinya terjadi komunikasi perasaan antara penghayat dan pelaku. Dalam konteks ini, musik ritual sangat mempengaruhi tingkat emosi seseorang. Ketika seseorang mendengarkan musik yang dinggap sakral, ia akan merasakan vibrasi musik tersebut pada suasana hatinya. Secara tidak langsung musik merangsang otak untuk merespon frekuensi yang diserap oleh telinga. Pada tahap awal penangkapan gelombang ini disebut sensasi. Setelah menerima frekuensi (baca: musik) tersebut, secara emosional gelombang frekuensi itu mengajak untuk mengekspresikan apa yang telah diterima oleh otak. Pada tahap selanjutnya tubuh merespon rangsangan yang ditimbulkan oleh gelombang frekuensi tadi, hal ini disebut sebagai model pikiran sehat (Djohan, 2005 : 43).
Ketika seseorang mendengarkan musik keras, misalnya jenis musik Rock, Hip Hop, Blues, dsb, jenis musik tersebut cenderung menggunakan irama, tempo, dan ritme yang relatif cepat. Secara tidak sadar orang yang mendengarkan musik tersebut terpacu untuk menggerakkan tubuhnya - psikomotorik. Pengaruh tersebut secara tidak langsung membentuk tingkah laku dan merupakan pencerminan gaya hidup seseorang. Musik yang cenderung keras (loud), seperti jenis musik Heavy Metal, dapat mempercepat detak jantung. Misalnya, ketika seseorang mengendarai kendaraan (mobil, motor, speed boat, dsb.) sambil mendengarkan musik tersebut, maka secara tidak sadar dapat memacu adrenalin,[5] sehingga kecepatan mengendarai kendaraan akan bertambah. Hal inipun dapat meningkatkan tingkat konsentrasi pengendara. Lain halnya, ketika seseorang mendengarkan musik lembut (soft)- musik klasik, instrumentalia lembut, dsb. Musik jenis ini menawarkan kehalusan emosi yang mendengarkannya.
Kembali pada pokok bahasan mengenai musik ritual tarawangsa, pada dasarnya mempunyai kesamaan dengan contoh kasus di atas. Hadirin yang menari pada saat prosesi ritual dengan tarawangsa sebagai pengiringnya, mereka dipengaruhi oleh alunan musik tersebut dan kemudian larut dalam penghayatan musikal. Keadaan tersebut menimbulkan efek yang luar biasa bagi penari. Vibrasi musik yang dihasilkan tarawangsa mempengaruhi alam bawah sadar, adanya ajakan pengalihan pemuasan keinginan naluri -- persuasi subliminal. Ketika mereka mendengarkan iringan tarawangsa, saraf motoriknya bergerak dan spontan mereka menari. Mereka menghayati betul karisma musik yang ditawarkan, akhirnya mereka terhanyut pada keadaan ekstase.
Menurut Barbara Crowe dalam Djohan (2005:229), mengatakan bahwa musik dan irama menghasilkan efek penyembuhan, karena dapat menenangkan aktivitas yang berlebihan dari otak kiri. Ia menyebutkan bahwa suara repetitif yang keras mengirim sinyal konstan kepada korteks (lapisan zat kelabu atau kulit pada permukaan otak kecil) serta menutup masukan dari indra yang lain seperti pandangan, sentuhan, dan bau. Barangkali ini yang disebut tingkat keheningan pikiran atau konsentrasi, di mana indra yang lain ditutup, kemudian menuju pada alam bawah sadar.
Hal ini cukup beralasan ketika musik tarawangsa disajikan dalam upacara ritual. Para penari menghayati alunan melodi gesekan alat musik tarawangsa. Dalam komposisi musiknya, yang lebih dominan adalah melodi tarawangsa. Jentreng berfungsi sebagai pengiring alur lagu dan sebagai patokan atau pijakan melodi. Terdapat pengulangan yang berkesinambungan dalam setiap periodenya, yang terdiri dari beberapa frase.
Ciri khas dari musik tarawangsa adalah alur melodi tarawangsa, selain itu petikan jentreng selalu menggunakan teknik tengkepan. Barangkali domain gesekan tarawangsa itulah yang mempengaruhi alam bawah sadar penari hingga mengalami trance. Karakteristik musik tarawangsa memang mengundang pendengarnya untuk ngigel atau menari. Hal ini dapat dirasakan dari petikan jentreng yang menggunakan tempo sedang dan petikan-petikan yang seakan mengajak menari mengikuti alunannnya. Barangkali hal tersebut dapat dirasakan oleh orang-orang tertentu yang mengenal betul akan nilai yang terkandung didalamnya. Motif pengulangan yang terdapat pada komposisi musiknya, berdasarkan pada cita rasa sosio masyarakat setempat -- barangkali pengulangan di sini dilakukan tanpa disadari.
Proses penyatuan antara dunia gaib dan jagat batin manusia tentunya memerlukan tingkat konsentrasi tinggi untuk menembusnya. Menuju tingkat konsentrasi itu mereka menggunakan musik tarawangsa sebagai meditasi ke arah heningnya alam pikiran. Ternyata untuk menuju tingkat konsentrasi itu, seorang penari mempunyai selera dalam memilih lagu. Apabila lagu yang dibawakan tarawangsa sesuai dengan seleranya, maka akan semakin cepatlah menuju pada keheningan alam pikiran dan kemudian ia tak sadarkan diri.
Pada dasarnya musik tarawangsa ditujukan untuk manusia menuju pada tingkat konsentrasi tinggi. Adapun mereka menyebutnya sebagai pengundang makhluk halus, itu semua hanya suatu proses menuju transenden. Kita belum mengenal betul hakekat makhluk halus yang sesungguhnya, apakah mereka juga sebagai makhluk yang mempunyai keinginan, pikiran, dan rasa laiknya manusia? Hal itu belum dapat diketahui dengan pasti, karena sesuatu yang tidak terwujud (tampak) sangat sutlit diketahui keberadannya. Adapun yang menyebabkan mereka mengalami trance saat menari, adalah aspek keyakinan penduduk setempat. Sedangkan tingkat konsentrasi untuk menuju pada interferensi antara manusia dengan ruh halus disebabkan oleh musik tarawangsa yang dapat meningkatkan keheningan alam pikiran.
Penutup
Pada dasarnya musik sakral (suci, keramat) yang digunakan untuk upacara yang berhubungan dengan keyakinan, dapat mengantarkan pendengarnya untuk menuju pada tingkat konsentrasi yang lebih tinggi. Ketika seorang penari mendengarkan musik tarawangsa, dan saat ia menghayati betul alunan tarawangsa. Secara tidak disadari musik tersebut bekerja mempengaruhi alam bawah sadar sang penari. Gelombang frekuensi yang dihasilkan dari keutuhan tarawangsa yang didengar oleh penari, dan secara tidak disadari emosi mereka berubah setelah mendengarkan alunannya. Kemudian gerak tubuh tetap merespon untuk melakukan gerakannya, walaupun mereka dalam keadaan trance.
Pada dasarnya musik memiliki hubungan timbal balik dengan kebutuhan manusia, apabila musik diciptakan memberikan manfaat bagi kehidupan manusia maka tercapailah esensi musik yang sesungguhnya. Tetapi apabila musik tidak memberikan apa–apa bagi kehidupan manusia, maka musik tidak bermanfaat, karena tidak dapat menentramkan batin, kehalusan budi yang mendengarkannya.
[1] Animism yaitu kepercayaan yang berdasarkan atas keberadaan ruh yang terdapat di lingkungan manusia, sehingga dilakukan berbagai kegiatan keagamaan guna memuja ruh-ruh tersebut. Dinamism adalahkepercayaan terhadap kekuatan sakti yang ada pada benda-benda atau yang dianggap keramat mempunyai kekuatan sakti, sehingga dilakukan kegiatan keagamaan yang berpedoman pada kepercayaan itu.
[2] Menurut Frazer religi adalah suatu sistem perbuatan untuk mencapai maksud dengan cara menyadarkan diri terhadap kehendak dan kuasa makhluk-makhluk halus yang menghuni alam semesta ini. Dalam Koentjaraningrat.Pengantar Antropologi : Pokok-Pokok Etnografi.Jakarta .1998. Hal 197
[3] Istilah ini diartikan alam lain yang tak dapat terindra oleh pancaindra manusia. Keberadaan alam ini diyakini oleh sebagaian manusia, adanya alam ruh, nenek moyang, dewa, dsb. yang tersekat oleh perbedaan wujud antara materi dan energi.
[4] Lihat situs www.westjava-Indonesia.com
[5] Hormon yang diproduksi anak ginjal, hormon ini juga dikenal sebagai hormon epinefina. Khasiatnya adalah memacu jantung, meninggikan tekanan darah, mengerutkan pembuluh darah di kulit, melebarkan pupil mata, dan meningkatkan kewaspadaan.
Friday, 6 February 2009
Kelong Sagala
Kelong Sagala:
Nyanyian Pengobatan
Kesenian adalah salah satu unsur dari kebudayaan universal, setiap manusia di dunia memiliki kesenian yang sesuai dengan sosio-budayanya. Kesenian merupakan kebutuhan integratif yang mencerminkan manusia sebagai makhluk yang mempunyai cita rasa. Dengan demikian setiap kebudayaan manusia memiliki kesenian yang didasari oleh cita-cita masyarakat pendukungnya, dan merupakan ungkapan budayanya.
Kesenian tradisi Indonesia merupakan kesenian yang lahir dari sub-kultur Indonesia - mengingat bahwa bangsa Indonesia memiliki beragam corak budaya, maka bermacam-macam pula kesenian yang dimilikinya. Kesenian tradisi Indonesia cenderung dihubungkan dengan kepentingan yang erat kaitannya dengan kepercayaan masyarakat pendukungnya. Hal ini berkaitan dengan aspek keyakinan yang dianut masyarakat setempat, dan adanya suatu kebiasaan religius yang berhubungan dengan alam yang tidak dapat dilihat oleh kasat mata--adanysa alam roh, baik roh nenek moyang atau roh jahat yang senantiasa bergandengan dengan kehidupan manusia.
Kesenian di daerah suku Indonesia cenderung tertuju pada sakralitas, kesenian digunakan untuk kepentingan upacara-upacara ritual, misalnya untuk upacara panen padi, ritual penurunan hujan, keselamatan, dll. Bahkan di daerah Propinsi Sulawesi Selatan, tepatnya daerah Tinggi Muncung- Gowa Toraya terdapat salah satu seni tradisi yang digunakan untuk penangkal atau pengusir penyakit. Mereka menyebutnya kelong sagala, tidak tahu pasti apa arti kelong sagala, Judul lagu atau suatu jenis kesenian. Masyarakat setempat menyebutnya sebagai mantram atau mantra untuk menghindarkan atau mengusir penyakit cacar, konon penyakit tersebut disebabkan oleh roh jahat yang mengganggu masyarakat setempat. Prosesi ini dilakukan di tempat terbuka dengan posisi samadi atau di dalam rumah di mana terbaring seorang yang terjangkit penyakit cacar.
Mantra tersebut menggunakan bahasa kuno daerah setempat, dan yang lebih mengherankan mereka - pengucap mantra - banyak yang tidak mengerti apa arti mantra yang diucapkannya. Lantas apa yang menyebabkan mereka terhindar dari gangguan roh jahat, sementara mereka tidak tahu arti dari mantra yang diucapkannya. Nyanyian kelong sagala-kah yang menyebabkan kesembuhan mereka, atau keyakinan mereka terhadap bertuahnya nyanyian kelong sagala. Tentunya terdapat hubungan timbal balik antara kelong sagala dengan emosi mereka, sehingga nyanyian tersebut dapat menimbulkan keyakinan yang dapat mengembalikan daya tahan tubuh seseorang yang terkena penyakit cacar.
Nyanyian yang sederhana
Mantra tersebut dinyanyikan secara bersama oleh sekelompok pria dan wanita dewasa dengan interval nada yang terbatas, dan secara bentuk musikal nyanyian tersebut tergolong sederhana, terdapat pengulangan- pengulangan dalam setiap frasenya. Apabila mengacu pada struktur musikalnya, nyanyian ini hanya terdiri dari dua frase saja. Dalam satu periode terdapat dua frase yang mengalami pengulangan secara kontinyu, sehingga terdapat kesan monoton. Kelong sagala atau mantra tersebut dinyanyikan dengan irama bebas, dengan tempo yang relatif lambat. Warna suara yang khas serta nyanyian meliuk-liuk dengan menggunakan nada yang terbatas menimbulkan rasa magis yang mencekam. Secara umum nyanyian kelong sagala dilantunkan unison oleh beberapa orang pengucap mantra. Dalam sajiannya terasa kekhidmatan suasana mistis yang mengantarkan pada kesakralan.
Kemudian timbul pertanyaan yang mendasar mengenai mantra yang dinyanyikan itu. Pertama; apakah kelong sagala dapat dikatakan musik vocal, kedua; apa yang menyebabkan masyarakat Tinggi Muncung dapat sembuh atau terhindar dari penyakit cacar? musikkah yang mempengaruhi kejiwaan mereka atau sang roh jahat takut akan makna teks - mantra itu, atau lagu yang membawakan mantra tersebut. Padahal, apabila diukur dengan pemikiran yang rasional tidak ada hubungan antara roh jahat dan penyakit cacar, yang ada hanyalah aspek keyakinan masyarakat setempat mengenai keberadaan makhluk halus yang mengganggunya.
Dapatkah kelong sagala disebut musik sakral dalam rangka pengobatan? Barangkali jawabannya bergantung dari keyakinan orang yang mempercayai akan bertuahnya musik tersebut, sementara bagi orang yang tidak mempercayai khasiat musik terhadap kejiwaan seseorang, maka tidak berkhasiatlah guna musik untuk pengobatan penyakit cacar itu. Dan apabila kelong sagala tidak lagi digunakan untuk pengusiran roh jahat dalam rangka penyembuhan penyakit cacar, melainkan dinyanyikan semata untuk hiburan, maka musik yang sederhana itu tidak dikatakan lagi sebagai musik sakral melainkan hiburan- adanya perubahan dari sakral menuju profan.
Kelong sagala adalah mantra yang dinyanyikan, merupakan media penghubung dengan alam lain yang ditempati oleh makhluk halus. Mantra kelong sagala menyebabkan roh jahat tidak mengganggu masyarakat, dengan mantra yang dinyanyikan itu mereka yakin dapat sembuh atau terhindar dari serangan penyakit cacar. Sedangkan nyanyian itu atau irama yang membawa mantra, merupakan suatu pengantar menuju konsentrasi tinggi hingga irama yang relatif sederhana itu dapat mempengaruhi kejiwaan mereka dan merasuk melalui alam bawah sadar - persuasi subliminal, timbullah keyakinan untuk sembuh atau terhindar penyakit cacar dalam alam pikirannya.
Jelas sekali, peranan kelong sagala hanya sebagai pengantar menuju ketentraman jiwa agar lebih menghayati keyakinan mereka, sedangkan hubungan antara alam manusia dan alam roh lebih mengacu pada makna teks atau mantra yang diucapkanya. Walaupun sebagian besar pembaca mantra tidak mengerti makna yang diucapkannya, mereka yakin dengan ber-kelong sagala roh jahat itu tidak lagi menggangu manusia. Esensinya adalah keyakinan dari pembaca mantra dan orang yang terjangkit penyakit cacar.
Kemungkinan besar irama yang lambat dan cenderung diulang-ulang itu - secara psikologis – mengantar pada tingkat Semadi, menuju pada konsentrasi dalam rangka memantapkan kepercayaan yang mereka yakini. Berarti melantunkan lagu atau mengucapkan mantra yang dinyanyikan itu ditujukan pada manusia, bukan pada sosok makhluk halus yang mengganggunya. Dan kita tidak mengetahui dengan pasti mengenai hakekat makhluk halus yang sesungguhnya, apakah mereka memiliki cita rasa laiknya manusia? Kemudian, apakah mereka menghayati seni (musik) karya manusia?. Hal tersebut belum dapat diketahui kebenarannya, dan belum terukur oleh pemikiran budi manusia, semua itu tergantung pada kepercayaan yang diyakini oleh masyarakat setempat.
Korelasi antara nyanyian dengan pengobatan
Ketika mereka mengucapkan mantra atau ber-kelong sagala, secara tidak disadari mereka dipengaruhi oleh nyanyian itu. Vibrasi atau getaran frekuensi yang dihasilkan dari alunan tersebut menibulkan getaran pada emosional mereka. Pada dasarnya musik bersifat afektif (emosional), artinya lebih menitikberatkan pada perasaan atau tingkat emosional seseorang. Dalam konteks ini, musik ritual yang dianggap sakral sangat mempengaruhi tingkat emosi seseorang. Ketika seseorang mendengarkan musik yang dinggap sakral, ia akan merasakan vibrasi musik tersebut pada suasana hatinya. Secara tidak langsung musik merangsang otak untuk merespon frekuensi yang diserap oleh telinga. Pada tahap awal penangkapan gelombang ini disebut sensasi. Setelah menerima frekuensi (baca: musik) tersebut, secara emosional gelombang frekuensi itu memicu untuk mengekspresikan apa yang telah diterima oleh otak. Pada tahap selanjutnya tubuh merespon rangsangan yang ditimbulkan oleh gelombang frekuensi tadi.
Apabila dihubungkan dengan kemonotonan yang ditimbulkan dari alunan kelong sagala, tentunya ada alasan yang mendasar mengenai kemonotonan tersebut dengan cara kerja otak. Mengingat bahwa otak merupakan prosessor yang paling mutakhir, sebagai central pemerintah tubuh. Barangkali, ketika seseorang terjangkit penyakit cacar, kemudian mendengarkan mantra yang dinyanyikan. Secara tidak disadari ia mengalami pemuasan pengalihan naluri yang diperintah otak, sehingga daya tahan tubuh penderita kembali normal.
Hal di atas cukup masuk akal, ketika pengucap mantra melantunkan nyanyian, ia tertuju pada tingkat semedi. Demikian pun si penderita, ia akan dipengaruhi oleh vibrasi nyanyian yang repetitif. Rangsangan kelong sagala dapat menstabilkan daya tahan tubuh seperti semula.
Upaya ini hanya suatu proses rasionalisasi dibalik pengaruh nyanyian kelong sagala pada kejiwaan. Adapun mereka menyebutnya sebagai gangguan roh jahat, itu semua berhubungan dengan aspek keyakinan masyarakat setempat dalam menerima daya-daya kekuatan alam.
Esensi Kelong Sagala
Dalam deskripsi Musik Tradisi Nusantara volume I mengenai kelong sagala, masih belum pasti mengenai penggolongan kelong sagala pada kategori musik, mungkin secara material kelong sagala belum memenuhi unsur musik. Nyanyian tersebut relatif monotone, tidak ada dinamika dalam alurnya dan kurangnya interaksi antara nada-nada. Apabila kita mengelompokannya menggunakan parameter unsur musik barat , mungkin kelong sagala kurang memenuhi unsur musik. Tetapi apabila mengacu pada hal yang umum- yakni irama – kelong sagala dapat dikategorikan musik, sebab unsur umum dari segala kebudayaan adalah irama. Kelong sagala memiliki warna suara yang khas, walaupun terdapat tingkat kesamaan dengan ciri khas Banyuwangen, yakni terletak pada musik vocal yang dilantunkan yang menggunakan teba nada terbatas. Walau pun demikian tetap saja kelong sagala mempunyai karakter tersendiri. Adapun kesamaan dengan kesenian yang terletak didaerah lain, hal itu merupakan proses pengendapan pengaruh yang akhirnya disesuaikan dengan sosio budaya masyarakat setempat.
Pada dasarnya musik memiliki hubungan timbal balik dengan kebutuhan manusia, apabila musik diciptakan memberikan manfaat bagi kehidupan manusia maka tercapailah esensi musik yang sesungguhnya. Tetapi apabila musik tidak memberikan apa – apa bagi kehidupan manusia, maka musik tidak bermanfaat, karena tidak dapat menentramkan batin, kehalusan budi yang mendengarkannya.
Walaupun alunan kelong sagala relatif sederhana, namun bagi masyarakat Tinggi Muncung mantra yang dinyanyikan tersebut bermanfaat bagi kehidupan mereka. Masyarakat setempat yang meyakini akan kemanjuran kelong sagala. Mereka tidak menilai alunan tersebut secara jasmaniah, melainkan rohaniah. Barangkali mereka tidak menilai keindahan dari bentuk musikalnya seperti halnya estetika barat yang materialistik dan bagaimana manusia mendunia. Tetapi yang mereka pegang adalah bagaimana manusia transenden, karena ungkapan fisiknya tidak terlalu penting dan yang penting adalah bagaimana imbasnya bagi kehidupan.
Pada dasarnya kelong sagala merupakan mantra yang dinyanyikan, dan ditujukan unutk roh jahat yang mengganggu lingkungan masyarakat sekitar. Secara struktur musikal kelong sagala sangat sederhana, bahkan cenderung monoton—terdapat pengulangan-pengulangan dalam setiap frasenya. Dari uraian diatas dapat ditarik kesimpulan, bahwa pada dasarnya alunan kelong sagala yang monoton itu mempengaruhi ambang batas sadar penderita penyakit cacar. Keadaan seperti itu yang menyebabkan kembalinya daya tahan tubuh seseorang yang terjangkit penyakit cacar. Nyanyian yang monoton itu tidak semata-mata ditujukan untuk sosok roh jahat yang menggangu masyarakat setempat, tetapi sebagai penopang keyakinan mereka dalam rangka penyembuhan atau pengusiran penyakit cacar.
Nyanyian Pengobatan
Kesenian adalah salah satu unsur dari kebudayaan universal, setiap manusia di dunia memiliki kesenian yang sesuai dengan sosio-budayanya. Kesenian merupakan kebutuhan integratif yang mencerminkan manusia sebagai makhluk yang mempunyai cita rasa. Dengan demikian setiap kebudayaan manusia memiliki kesenian yang didasari oleh cita-cita masyarakat pendukungnya, dan merupakan ungkapan budayanya.
Kesenian tradisi Indonesia merupakan kesenian yang lahir dari sub-kultur Indonesia - mengingat bahwa bangsa Indonesia memiliki beragam corak budaya, maka bermacam-macam pula kesenian yang dimilikinya. Kesenian tradisi Indonesia cenderung dihubungkan dengan kepentingan yang erat kaitannya dengan kepercayaan masyarakat pendukungnya. Hal ini berkaitan dengan aspek keyakinan yang dianut masyarakat setempat, dan adanya suatu kebiasaan religius yang berhubungan dengan alam yang tidak dapat dilihat oleh kasat mata--adanysa alam roh, baik roh nenek moyang atau roh jahat yang senantiasa bergandengan dengan kehidupan manusia.
Kesenian di daerah suku Indonesia cenderung tertuju pada sakralitas, kesenian digunakan untuk kepentingan upacara-upacara ritual, misalnya untuk upacara panen padi, ritual penurunan hujan, keselamatan, dll. Bahkan di daerah Propinsi Sulawesi Selatan, tepatnya daerah Tinggi Muncung- Gowa Toraya terdapat salah satu seni tradisi yang digunakan untuk penangkal atau pengusir penyakit. Mereka menyebutnya kelong sagala, tidak tahu pasti apa arti kelong sagala, Judul lagu atau suatu jenis kesenian. Masyarakat setempat menyebutnya sebagai mantram atau mantra untuk menghindarkan atau mengusir penyakit cacar, konon penyakit tersebut disebabkan oleh roh jahat yang mengganggu masyarakat setempat. Prosesi ini dilakukan di tempat terbuka dengan posisi samadi atau di dalam rumah di mana terbaring seorang yang terjangkit penyakit cacar.
Mantra tersebut menggunakan bahasa kuno daerah setempat, dan yang lebih mengherankan mereka - pengucap mantra - banyak yang tidak mengerti apa arti mantra yang diucapkannya. Lantas apa yang menyebabkan mereka terhindar dari gangguan roh jahat, sementara mereka tidak tahu arti dari mantra yang diucapkannya. Nyanyian kelong sagala-kah yang menyebabkan kesembuhan mereka, atau keyakinan mereka terhadap bertuahnya nyanyian kelong sagala. Tentunya terdapat hubungan timbal balik antara kelong sagala dengan emosi mereka, sehingga nyanyian tersebut dapat menimbulkan keyakinan yang dapat mengembalikan daya tahan tubuh seseorang yang terkena penyakit cacar.
Nyanyian yang sederhana
Mantra tersebut dinyanyikan secara bersama oleh sekelompok pria dan wanita dewasa dengan interval nada yang terbatas, dan secara bentuk musikal nyanyian tersebut tergolong sederhana, terdapat pengulangan- pengulangan dalam setiap frasenya. Apabila mengacu pada struktur musikalnya, nyanyian ini hanya terdiri dari dua frase saja. Dalam satu periode terdapat dua frase yang mengalami pengulangan secara kontinyu, sehingga terdapat kesan monoton. Kelong sagala atau mantra tersebut dinyanyikan dengan irama bebas, dengan tempo yang relatif lambat. Warna suara yang khas serta nyanyian meliuk-liuk dengan menggunakan nada yang terbatas menimbulkan rasa magis yang mencekam. Secara umum nyanyian kelong sagala dilantunkan unison oleh beberapa orang pengucap mantra. Dalam sajiannya terasa kekhidmatan suasana mistis yang mengantarkan pada kesakralan.
Kemudian timbul pertanyaan yang mendasar mengenai mantra yang dinyanyikan itu. Pertama; apakah kelong sagala dapat dikatakan musik vocal, kedua; apa yang menyebabkan masyarakat Tinggi Muncung dapat sembuh atau terhindar dari penyakit cacar? musikkah yang mempengaruhi kejiwaan mereka atau sang roh jahat takut akan makna teks - mantra itu, atau lagu yang membawakan mantra tersebut. Padahal, apabila diukur dengan pemikiran yang rasional tidak ada hubungan antara roh jahat dan penyakit cacar, yang ada hanyalah aspek keyakinan masyarakat setempat mengenai keberadaan makhluk halus yang mengganggunya.
Dapatkah kelong sagala disebut musik sakral dalam rangka pengobatan? Barangkali jawabannya bergantung dari keyakinan orang yang mempercayai akan bertuahnya musik tersebut, sementara bagi orang yang tidak mempercayai khasiat musik terhadap kejiwaan seseorang, maka tidak berkhasiatlah guna musik untuk pengobatan penyakit cacar itu. Dan apabila kelong sagala tidak lagi digunakan untuk pengusiran roh jahat dalam rangka penyembuhan penyakit cacar, melainkan dinyanyikan semata untuk hiburan, maka musik yang sederhana itu tidak dikatakan lagi sebagai musik sakral melainkan hiburan- adanya perubahan dari sakral menuju profan.
Kelong sagala adalah mantra yang dinyanyikan, merupakan media penghubung dengan alam lain yang ditempati oleh makhluk halus. Mantra kelong sagala menyebabkan roh jahat tidak mengganggu masyarakat, dengan mantra yang dinyanyikan itu mereka yakin dapat sembuh atau terhindar dari serangan penyakit cacar. Sedangkan nyanyian itu atau irama yang membawa mantra, merupakan suatu pengantar menuju konsentrasi tinggi hingga irama yang relatif sederhana itu dapat mempengaruhi kejiwaan mereka dan merasuk melalui alam bawah sadar - persuasi subliminal, timbullah keyakinan untuk sembuh atau terhindar penyakit cacar dalam alam pikirannya.
Jelas sekali, peranan kelong sagala hanya sebagai pengantar menuju ketentraman jiwa agar lebih menghayati keyakinan mereka, sedangkan hubungan antara alam manusia dan alam roh lebih mengacu pada makna teks atau mantra yang diucapkanya. Walaupun sebagian besar pembaca mantra tidak mengerti makna yang diucapkannya, mereka yakin dengan ber-kelong sagala roh jahat itu tidak lagi menggangu manusia. Esensinya adalah keyakinan dari pembaca mantra dan orang yang terjangkit penyakit cacar.
Kemungkinan besar irama yang lambat dan cenderung diulang-ulang itu - secara psikologis – mengantar pada tingkat Semadi, menuju pada konsentrasi dalam rangka memantapkan kepercayaan yang mereka yakini. Berarti melantunkan lagu atau mengucapkan mantra yang dinyanyikan itu ditujukan pada manusia, bukan pada sosok makhluk halus yang mengganggunya. Dan kita tidak mengetahui dengan pasti mengenai hakekat makhluk halus yang sesungguhnya, apakah mereka memiliki cita rasa laiknya manusia? Kemudian, apakah mereka menghayati seni (musik) karya manusia?. Hal tersebut belum dapat diketahui kebenarannya, dan belum terukur oleh pemikiran budi manusia, semua itu tergantung pada kepercayaan yang diyakini oleh masyarakat setempat.
Korelasi antara nyanyian dengan pengobatan
Ketika mereka mengucapkan mantra atau ber-kelong sagala, secara tidak disadari mereka dipengaruhi oleh nyanyian itu. Vibrasi atau getaran frekuensi yang dihasilkan dari alunan tersebut menibulkan getaran pada emosional mereka. Pada dasarnya musik bersifat afektif (emosional), artinya lebih menitikberatkan pada perasaan atau tingkat emosional seseorang. Dalam konteks ini, musik ritual yang dianggap sakral sangat mempengaruhi tingkat emosi seseorang. Ketika seseorang mendengarkan musik yang dinggap sakral, ia akan merasakan vibrasi musik tersebut pada suasana hatinya. Secara tidak langsung musik merangsang otak untuk merespon frekuensi yang diserap oleh telinga. Pada tahap awal penangkapan gelombang ini disebut sensasi. Setelah menerima frekuensi (baca: musik) tersebut, secara emosional gelombang frekuensi itu memicu untuk mengekspresikan apa yang telah diterima oleh otak. Pada tahap selanjutnya tubuh merespon rangsangan yang ditimbulkan oleh gelombang frekuensi tadi.
Apabila dihubungkan dengan kemonotonan yang ditimbulkan dari alunan kelong sagala, tentunya ada alasan yang mendasar mengenai kemonotonan tersebut dengan cara kerja otak. Mengingat bahwa otak merupakan prosessor yang paling mutakhir, sebagai central pemerintah tubuh. Barangkali, ketika seseorang terjangkit penyakit cacar, kemudian mendengarkan mantra yang dinyanyikan. Secara tidak disadari ia mengalami pemuasan pengalihan naluri yang diperintah otak, sehingga daya tahan tubuh penderita kembali normal.
Hal di atas cukup masuk akal, ketika pengucap mantra melantunkan nyanyian, ia tertuju pada tingkat semedi. Demikian pun si penderita, ia akan dipengaruhi oleh vibrasi nyanyian yang repetitif. Rangsangan kelong sagala dapat menstabilkan daya tahan tubuh seperti semula.
Upaya ini hanya suatu proses rasionalisasi dibalik pengaruh nyanyian kelong sagala pada kejiwaan. Adapun mereka menyebutnya sebagai gangguan roh jahat, itu semua berhubungan dengan aspek keyakinan masyarakat setempat dalam menerima daya-daya kekuatan alam.
Esensi Kelong Sagala
Dalam deskripsi Musik Tradisi Nusantara volume I mengenai kelong sagala, masih belum pasti mengenai penggolongan kelong sagala pada kategori musik, mungkin secara material kelong sagala belum memenuhi unsur musik. Nyanyian tersebut relatif monotone, tidak ada dinamika dalam alurnya dan kurangnya interaksi antara nada-nada. Apabila kita mengelompokannya menggunakan parameter unsur musik barat , mungkin kelong sagala kurang memenuhi unsur musik. Tetapi apabila mengacu pada hal yang umum- yakni irama – kelong sagala dapat dikategorikan musik, sebab unsur umum dari segala kebudayaan adalah irama. Kelong sagala memiliki warna suara yang khas, walaupun terdapat tingkat kesamaan dengan ciri khas Banyuwangen, yakni terletak pada musik vocal yang dilantunkan yang menggunakan teba nada terbatas. Walau pun demikian tetap saja kelong sagala mempunyai karakter tersendiri. Adapun kesamaan dengan kesenian yang terletak didaerah lain, hal itu merupakan proses pengendapan pengaruh yang akhirnya disesuaikan dengan sosio budaya masyarakat setempat.
Pada dasarnya musik memiliki hubungan timbal balik dengan kebutuhan manusia, apabila musik diciptakan memberikan manfaat bagi kehidupan manusia maka tercapailah esensi musik yang sesungguhnya. Tetapi apabila musik tidak memberikan apa – apa bagi kehidupan manusia, maka musik tidak bermanfaat, karena tidak dapat menentramkan batin, kehalusan budi yang mendengarkannya.
Walaupun alunan kelong sagala relatif sederhana, namun bagi masyarakat Tinggi Muncung mantra yang dinyanyikan tersebut bermanfaat bagi kehidupan mereka. Masyarakat setempat yang meyakini akan kemanjuran kelong sagala. Mereka tidak menilai alunan tersebut secara jasmaniah, melainkan rohaniah. Barangkali mereka tidak menilai keindahan dari bentuk musikalnya seperti halnya estetika barat yang materialistik dan bagaimana manusia mendunia. Tetapi yang mereka pegang adalah bagaimana manusia transenden, karena ungkapan fisiknya tidak terlalu penting dan yang penting adalah bagaimana imbasnya bagi kehidupan.
Pada dasarnya kelong sagala merupakan mantra yang dinyanyikan, dan ditujukan unutk roh jahat yang mengganggu lingkungan masyarakat sekitar. Secara struktur musikal kelong sagala sangat sederhana, bahkan cenderung monoton—terdapat pengulangan-pengulangan dalam setiap frasenya. Dari uraian diatas dapat ditarik kesimpulan, bahwa pada dasarnya alunan kelong sagala yang monoton itu mempengaruhi ambang batas sadar penderita penyakit cacar. Keadaan seperti itu yang menyebabkan kembalinya daya tahan tubuh seseorang yang terjangkit penyakit cacar. Nyanyian yang monoton itu tidak semata-mata ditujukan untuk sosok roh jahat yang menggangu masyarakat setempat, tetapi sebagai penopang keyakinan mereka dalam rangka penyembuhan atau pengusiran penyakit cacar.
Subscribe to:
Posts (Atom)